Tuesday, January 16, 2018

Tips Menjadi Pendaki Teladan





























Sudah tidak asing bagi telinga khalayak umum ketika mendengar kata mendaki gunung. Setiap pemuda dari jenjang kuliah rata-rata mengaku sudah pernah setidaknya sekali dalam seumur hidup melakukan kegiatan pendakian. Nah! Yang jadi masalah adalah, apakah sepenuhnya dari mereka-mereka ini yang mengaku sebagai pemuda yang cinta alam sudah benar-benar menerapkan nilai-nilai yang sesuai dengan etika-etika dalam berkegiatan di alam bebas? Ternyata banyak sekali bukti-bukti di media sosial bahwa begitu banyaknya pendaki yang melakukan tindakan yang kurang terpuji.


Semisal, kurang memperhatikannya faktor keselamatan seperti selfie di tempat yang berbahaya; membuang sampah sembarangan; bahkan ada juga yang dengan tega mengambil flora yang dilindungi seperti bunga edelweis. Perbuatan-perbuatan ini sangatlah jauh dari kata teladan!

Lalu sebagai pendaki, harus bagaimanakah kita agar dapat menjadi pendaki yang teladan? Berikut ini adalah beberapa tips menjadi pendaki teladan. CEKIDOT.


1. Lengkapi Gear Pendakian sesuai Standar Safety

Gear atau yang biasa kita sebut perlengkapan mendaki adalah modal kedua para pendaki setelah kita punya fisik yang terlatih, sehat dan prima. Gear pendakian kini juga sudah mudah kita dapatkan dengan harga yang paling terjangkau hingga harga yang setinggi langit ke tujuh (hehe). Namun pada umumnya harga yang semakin mahal akan mencerminkan kualitas gear yang kita beli.
Alam bebas merupakan lingkungan yang keras, maka untuk keselamatan, kenyamanan dan keamanan kita selama melakukan perjalanan atau pendakian diperlukan ketahanan gear yang baik. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan, cidera atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. 


2. Luruskan Niat

Niat adalah ungkapan atau pemikiran yang mendasari permulaan dari segala kegiatan kita. Niat ada yang baik, ada juga yang buruk. Maka sebagai pendaki teladan kita seharusnya harus benar-benar menata kembali niat kita selama mendaki gunung.

Banyak kesaksian dari beberapa pendaki yang mengatakan bahwa niatnya yang kurang baik sering diiringi kejadian-kejadian yang kurang diinginkan. Seperti mendaki yang niatnya hanya untuk gagah-gagahan karena mungkin merasa paling kuat, atau ada juga yang mengambil bunga edelweis untuk kekasih, dan masih banyak lagi yang lain. Tentunya hal-hal tersebut sangatlah kurang terpuji! Ada yang bersaksi pernah 'diganggu', atau bahkan kesurupan, hingga 'diperintahkan' mengembalikan barang yang diambil.

Niat yang baik misalnya antara lain: mendaki gunung ditujukan untuk mengekspresikan cinta kita pada alam, dengan mengunjungi, merawat dan menunjukkan kekayaan alam Indonesia ke khalayak ramai; mendaki dengan tujuan untuk mencari ketenangan pikiran, atau mendaki dengan tujuan untuk berolahraga.


3. Pelajari Tata Tertib Lokasi Mendaki dan Mitos Lokal

Setiap lokasi pendakian pasti punya aturan-aturan yang berbeda satu dengan yang lain walaupun beberapa aturan umum tentunya selalu ada disetiap aturan lokasi pendakian. Pada umumnya adalah aturan mengenai kebersihan, keselamatan, hingga peralatan ataupun perlengkapan yang wajib dibawa.

Namun kadang di beberapa tempat ada saja yang menentukan aturan khusus yang belum tentu ada di lokasi pendakian lain. Aturan ini mungkin berhubungan dengan mitos yang dipercayai masyarakat setempat. Seperti pada Gunung Lawu, ada yang mengatakan anggota pendakian dalam satu kelompok sebaiknya jangan dengan jumlah ganjil, juga ada larangan mengenakan pakaian bernuansa hijau, dan lain-lain.

Terserah antara percaya atau tidak, tapi kita sebagai tamu sebaiknya minimal menghormati kepercayaan warga sekitar lokasi mendaki tersebut.


4. Punya Manajemen Perjalanan yang Baik

Dalam setiap perjalanan yang terbentuk dari sebuah tim, haruslah terorganisir dengan baik dan dipimpin oleh 1 ketua. Tim tersebut akan terbagi menjadi beberapa bagian. Terutama dalam tim yang terdiri lebih dari 5 orang, sebaiknya dibagi menjadi 2 bagian (dalam hal ini yang dibahas adalah perjalanan dalam jalur pendakian yang sudah terdapat petunjuk yang jelas sehingga tidak perlu tim navigator).

Yang pertama adalah tim leader yang bertugas berangkat dahulu dengan tujuan agar sampai lokasi camp lalu dapat langsung mendirikan tenda. Tim ini terdiri dari beberapa personil yang memiliki kecepatan mendaki yang lebih cepat.

Yang kedua adalah tim sweeper yang bertugas untuk mendampingi anggota tim yang memiliki ketahanan atau stamina yang kurang atau termasuk juga apabila ada anggota tim yang sakit. Tim ini terdiri dari personil yang memiliki ketahanan tinggi, bisa membawa beban yang berat apabila diperlukan, ekstra sabar, pribadi yang menyenangkan, dan memiliki jiwa motivator. Hehehe, sungguh sosok yang sempurna sekali sepertinya kriteria menjadi tim sweeper.

Selain manajemen tim, ada juga pengaturan waktu pendakian atau yang disebut dengan itinerary atau pembagian jadwal pelaksanaan perjalanan. Dengan begitu kegiatan pendakian dapat terlaksana dengan baik sesuai jadwal atau itinerary yang sudah ditentukan bersama. Kalaupun ada kemungkinan tak terduga, tim juga harus dapat mempersiapkanplan B, plan C, dan plan yang lainnya.

Kemudian ada juga manajemen logistik yaitu pembagian tugas membawa makan dan minum sebagai bekal selama melakukan perjalanan. Pembagian yang baik dan adil sesuai dengan kemampuan fisik peserta dapat membantu kelancaran perjalanan.

Terakhir ada manajemen peralatan dan perlengkapan tim. Seperti siapa yang membawa tenda, kompor, alat masak, alat makan, dan lain-lain. Tentunya juga dengan mempertimbangkan kemampuan fisik setiap anggota tim.


5. Budayakan Saling Sapa

Dalam melakukan perjalanan pendakian kita akan sering bertemu pendaki lain, terutama jalur pendakian gunung yang sedang ramai dikunjungi. Sudah menjadi kebiasaan sejak dulu bahwa para pendaki akan selalu menyapa pendaki lain ketika berpapasan walaupun tidak saling mengenal. Bahkan beberapa pendaki ada yang punya ritunitas 'berkunjung ke tenda sebelah'. Tujuannya bukan lain adalah untuk menjalin kerukunan antar sesama pendaki.

Beberapa manfaat yang didapat antara lain: menunjukkan keramahan, menambah semangat kita saat sedang lelah, dan bisa menjadi awal perkenalan kita untuk dapat menambah pertemanan.

Kita adalah orang Indonesia yang terkenal keramahannya oleh para warga negara asing. Maka kita sudah seharusnya bangga dan menata diri kita agar citra bangsa kita dengan budaya ketimuran itu dapat terjaga. Bukan seperti pendaki-pendaki yang diberi salam atau kita sapa tapi tidak menjawab atau memandang sama sekali.


6. Kurangi Perilaku Kurang Terpuji

Beberapa pendaki, terutama pendaki zaman NOWW dewasa ini marak terlihat menunjukkan beberapa perilaku kurang terpuji di sosial media ketika melakukan kegiatan pendakian. Contohnya saja di postingan akun-akun instagram pusat informasi pendakian, terlihat ada 4 remaja dengan bangganya berfoto dengan membawa bunga edelweis yang sudah dipotongnya, bahkan ada juga yang berfoto setelah 'MENJEBOL' bunga edelweis tersebut sampai ke akar-akarnya.

Selain itu ada juga yang melakukan vandalisme mainstream yaitu aksi corat-coret apapun yang bisadicorat-coret. Seperti papan plang informasi, papan plang penunjuki jalan, hingga batu-batu besar di puncak Ogal-Agil gunung Arjuno. Duh sedihnya kalau lihat fasilitas dan unsur alam yang dirusakoleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.


Sumber: https://www.facebook.com/profile.php?id=100011798533405&hc_ref=ARQsUzMm1TcNXV27oIpWe8WnADvLOo8xR8RZIJu4Kl2QlApEIVwKQUCgBS5G0ZdkxeM



Sebenarnya mereka pasti sudah paham dengan larangan atau aturan disetiap lokasi pendakian. Mungkin karena jiwa mudanya yang sudah tak terbendung tersebut yang sudah tidak bisa dikendalikan. Maka dari itu, marilah mulai dari diri kita sendiri untuk menjaga dan mengurangi perilaku tidak terpuji di lokasi pendakian agar fasilitas yang sudah tersedia dan unsur-unsur alami dapat terus terjaga kelestariannya.


7. Bawa Turun Sampahmu

Sampah adalah masalah utama kerusakan di setiaplokasi pendakian di manapun. Setiap pendaki naik membawa logistik yang tentunya mengandung bgungkus, kulit ataupun bagian lain yang nantinya akan menjadi sampah. Sudah barang tentu bahwa sampah kita adalah tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab pihak pengelola jalur pendakian atau aktivis pecinta lingkungan. Sekali lagi, kita adalah pengunjung, kita yang membawa bakal sampah ke atas, maka kita pula lah yang harus membawa kembali turun sampah tersebut.

Tidak akan sampai memberatkan perjalanan kita apabila sampah yang kita bawa turun adalah sampah kita pribadi. Namun akan menjadi masalah yang besar apabila hampir mayoritas pendaki kini sudah tidak peduli lagi akan kebersihan dan keaslian lokasi pendakian. Maka dari itu marilah kita berkaca, kita ini sesungguhnya pendaki pecinta alam, atau pendaki perusak alam?


8. Lakukan Prinsip 'Leave No Trace'

Prinsip 'Leave No Trace' memiliki arti 'meninggalkan tanpa jejak'. Yang memiliki maksud, bahwa setiap kita melakukan perjalanan dan berkunjung ke tempat apapun di alam, kita harusmeninggalkan lokasi tersebut seperti layaknya sebelum kita kunjungi, sehingga seakan kita meninggalkan tanpa jejak.

Cara menerapkan prinsip 'Leave No Trace' sangatlah mudah. Beberapa contohnya yaitu, membuang sampah di tempat yang seharusnya, tidak menggunakan kayu sebagai bahan bakar, membersihkan camp area sehingga tampak seperti sesaat sebelum ditempati, tidak mengotori sumber air, dan masih banyak yang lain. Intinya kegiatan kita di alam bebas jangan sampai meninggalkan jejak apapun yang berakibat negatif bagi kelestarian alam.


9. Tanamkan Tiga Etika Lingkungan Hidup Universal

Sejak dahulu para penggiat alam tidak hanya di Indonesia saja, namun di seluruh dunia pasti sudah tidak asing dengan tiga etika lingkungan hidup universal. Apa saja? Antara lain:
  1. Take nothing but picture, Dilarang mengambil apapun kecuali foto
  2. Leave nothing but footprint, Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak
  3. Kill nothing but time, Dilarang membunuh apapun kecuali waktu
Ketiga etika tersebut haruslah dipegang erat oleh para penggiat alam di seluruh dunia. Karena kita adalah tamu di rumah orang yang penghuninya adalah flora dan fauna yang rentan terganggu/rusak karena kedatangan manusia. Kita sebagai tamu seharusnya menunjung tinggi etika tersebut sebagai usaha kita mendukung kelestarian alam. Dengan begitu, citra kita sebagai pendaki yang cinta alam akan benar-benar terwujud.


Itulah tadi tips untuk menjadi pendaki teladan. Teladan berarti segala yang kita lakukan bisa menjadi contoh yang baik bagi yang lain. Sehingga kita mendaki gunung tidak hanya datang sebagai pengunjung di jalur pendakian saja, tapi juga sebagai part-time aktivis lingkungan yang benar-benar mencintai alam. SALAM LESTARI!!!
Advertisement
Disqus Comments